
Program: Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya – Dana Indonesiana 2025
Lokasi: 10 Kabupaten/Kota di Jawa Barat (Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran)
Durasi: Januari – Mei 2026
Latar Belakang dan Urgensi
Tanaman hanjuang (Cordyline fruticosa) memiliki akar sejarah dan budaya yang mendalam dalam peradaban Sunda. Jejaknya terekam dalam berbagai sumber historis seperti Prasasti Geger Hanjuang (1111 M) di Tasikmalaya yang menandai batas wilayah Kerajaan Galunggung, Naskah Wangsit Siliwangi (1518 M), tradisi Sawen Tulak Bala di Sukabumi, hingga penggunaannya sebagai tanda kemenangan (totonde) di Kerajaan Sumedanglarang (1578–1610). Tanaman ini juga hadir dalam motif batik tradisional seperti motif Tangkal di Ciamis dan Parang Garut di Garut, serta ditemukan di 80% pekarangan rumah tangga Sunda, menjadikannya tanaman budaya yang lekat dengan keseharian masyarakat.
Meskipun memiliki nilai budaya yang signifikan, dokumentasi motif batik yang menyerupai atau terinspirasi hanjuang sangat minim, hanya mencakup 10% dari total motif batik Sunda yang terdata (Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, 2023). Di sisi lain, praktik pewarnaan batik di Jawa Barat masih didominasi oleh pewarna sintetis (70%), yang berkontribusi terhadap 20% pencemaran air di Sungai Citarum (KLHK, 2023). Kondisi ini menciptakan ancaman ganda: erosi dokumentasi warisan budaya di satu sisi, dan degradasi lingkungan akibat limbah tekstil di sisi lain.
Daun hanjuang merah mengandung pigmen antosianin yang berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami ramah lingkungan. Potensi ini membuka peluang untuk menghadirkan solusi integratif yang tidak hanya melestarikan warisan budaya takbenda, tetapi juga menjawab tantangan keberlanjutan lingkungan. Kajian ini menjadi sangat mendesak untuk segera dilaksanakan guna mendokumentasikan pengetahuan tradisional yang masih tersisa, mengembangkan inovasi pewarna alami berbasis tanaman lokal, serta menciptakan motif batik baru yang merepresentasikan kekayaan tradisi lisan dan sejarah Sunda.
Tujuan Kegiatan
Dokumentasi Budaya: Mendokumentasikan secara sistematis berbagai motif batik yang terkait dengan hanjuang di 10 kabupaten/kota terpilih sebagai warisan budaya takbenda Sunda.
Inovasi Pewarna Alami: Mengembangkan teknik pewarnaan alami dari ekstrak daun hanjuang merah dengan menghasilkan 5 variasi warna utama yang ramah lingkungan dan teruji secara ilmiah.
Pengayaan Motif: Menciptakan 1 motif batik baru bertema hanjuang yang mengintegrasikan temuan penelitian dan observasi, termasuk nilai-nilai dari ritus, tradisi lisan, dan sejarah lokal di 10 kabupaten/kota.
Diseminasi Pengetahuan: Menyebarluaskan hasil kajian melalui buku monograf, e-book, sarasehan hybrid, lokakarya, dan video dokumenter untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan.
Rekomendasi Kebijakan: Menyusun policy brief yang memberikan rekomendasi strategis kepada pemerintah pusat dan daerah mengenai budidaya hanjuang serta dukungan terhadap produksi batik ramah lingkungan.
Metodologi dan Tahapan Pelaksanaan
Kajian ini menggunakan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan metode etnografi partisipatif, eksperimen laboratorium, analisis lingkungan, dan diseminasi berbasis komunitas. Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam enam tahapan utama:
Tahap I (Persiapan dan Koordinasi): Pengadaan logistik, penyusunan instrumen survei etnografi, serta rapat koordinasi internal dan eksternal dengan mitra strategis seperti Dinas Kebudayaan, perguruan tinggi, dan komunitas pengrajin.
Tahap II (Observasi Lapangan): Survei etnografi di 10 kabupaten/kota dengan melakukan wawancara mendalam bersama 2 narasumber kunci per daerah (pengrajin batik dan tokoh budaya), enumerasi terhadap 300 rumah tangga (30 per kabupaten) yang menanam hanjuang, serta dokumentasi visual berupa foto dan video.
Tahap III (Eksperimen Pewarna Alami): Ekstraksi daun hanjuang merah dengan variasi mordan (tawas, tunjung, TRO, soda ash, kapur, sodium asetat) untuk menghasilkan 5 warna berbeda pada 3 jenis kain (katun, sutra, polyester). Proses ini didokumentasikan dan diuji ketahanan warnanya.
Tahap IV (Analisis dan Evaluasi): Pengolahan dan analisis data etnografi, pengukuran prototipe pewarna di laboratorium (uji CIELAB dan uji limbah cair), serta konsultasi ahli untuk merumuskan desain motif baru.
Tahap V (Pengembangan Motif dan Publikasi): Perancangan 1 motif batik baru bertema hanjuang yang merepresentasikan temuan penelitian, penyusunan buku monograf (50 eksemplar, 100 halaman), policy brief (30 eksemplar), produksi canting cap, serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Tahap VI (Diseminasi): Penyelenggaraan sarasehan hybrid (100 peserta) dan lokakarya luring (35 peserta) yang melibatkan pengrajin, akademisi, komunitas budaya, dan generasi muda. Distribusi buku monograf ke dinas terkait, perpustakaan, dan komunitas di seluruh Jawa Barat.
Luaran dan Target Capaian
| No | Jenis Luaran | Spesifikasi | Target |
|---|---|---|---|
| 1 | Buku Monograf | 100 halaman, 50 eksemplar + e-book | Terdokumentasinya motif batik hanjuang, sejarah budaya Sunda, teknik pewarnaan alami |
| 2 | Motif Batik Baru | 1 motif bertema hanjuang | Mencerminkan tradisi lisan dan temuan riset dari 10 kabupaten/kota |
| 3 | Variasi Warna Alami | 5 warna utama dari ekstrak hanjuang | Teruji secara ilmiah (CIELAB) dan ramah lingkungan |
| 4 | Prototipe Batik | 1 lembar kain jarik (2x1 m) + 30 kain iket (60x60 cm) | Produk batik dengan pewarna alami hanjuang |
| 5 | Policy Brief | 30 eksemplar, 10 halaman | Rekomendasi budidaya hanjuang dan insentif batik ramah lingkungan |
| 6 | Hak Kekayaan Intelektual | Minimal 1 HKI | Melindungi motif baru dan/atau metode pewarnaan |
| 7 | Video Dokumenter | 1 video pendek (3-5 menit) | Promosi dan edukasi publik |
| 8 | Sarasehan | 1 kali hybrid (100 peserta) | Berbagi pengetahuan dan diskusi ahli |
| 9 | Lokakarya | 1 kali luring (35 peserta) | Pelatihan praktik membatik dengan pewarna alami |
Dampak dan Manfaat
Pelestarian Budaya: Kajian ini akan memperkaya Data Pokok Kebudayaan Indonesia dengan dokumentasi motif batik hanjuang yang selama ini terabaikan. Penciptaan satu motif baru akan menjadi medium visualisasi tradisi lisan seperti Sawen Tulak Bala yang semakin tergerus zaman.
Keberlanjutan Lingkungan: Inovasi pewarna alami dari hanjuang memberikan alternatif ramah lingkungan yang dapat mengurangi ketergantungan pada pewarna sintetis dan menekan limbah tekstil di Sungai Citarum.
Pemberdayaan Ekonomi: Keterlibatan 10 pengrajin aktif dan 300 responden masyarakat akan meningkatkan kapasitas dan potensi pendapatan mereka melalui produk batik bernilai tambah (ekonomi kreatif) yang berbasis kearifan lokal.
Penguatan Kebijakan: Policy brief yang dihasilkan akan menjadi dasar advokasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian terkait untuk mendorong budidaya hanjuang serta memberikan insentif bagi produksi batik ramah lingkungan.
Kontribusi Ilmiah: Publikasi buku monograf dan e-book akan memperkuat saintifikasi budaya Sunda dengan memadukan pendekatan sains (uji laboratorium) dan tradisi (pengetahuan lokal), sekaligus menjadi referensi bagi akademisi dan peneliti kebudayaan.
Kesimpulan
Proposal "Batik Hanjuang" menawarkan pendekatan holistik yang memadukan pelestarian warisan budaya, inovasi teknologi ramah lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kebijakan publik. Dengan dukungan data historis yang kuat, metodologi yang terstruktur, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (pemerintah daerah, akademisi, komunitas budaya, dan pengrajin), kegiatan ini diproyeksikan tidak hanya menghasilkan dokumentasi yang komprehensif, tetapi juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi ekosistem kebudayaan dan lingkungan di Jawa Barat. Kajian ini sepenuhnya selaras dengan tema Dana Indonesiana 2025: "Pemajuan Kebudayaan yang Inklusif, Harmonis, dan Berkelanjutan."









